Skip to main content

Sepi & Hening


"...itu hanya permainan waktu, perasaan dan kondisi.dan sebenarnya pilihannya adalah diam atau terbawa".
 
Ada saat dimana kamu menyukai keheningan dan sepi, hal itu dinamakan menyendiri dan itu wajar terjadi. Saat sepi kau mampu mendengar detak jantungmu sendiri, merasakan keraguanmu dan mendengar kata hatimu. Apa yang sebenarnya kau harapkan bukan lagi menjadi prioritas, melainkan formalitas. Loyalitas bukan lagi suatu hal yang mahal, mungkin bisa dikuantifikasi. 

Menyendiri adalah salah satu cara memperbaiki senyum dimana kamu bisa menggali banyak hal dalam dirimu. Mmh, tidak sepenuhnya benar, menyendiri adalah pelarian terbaik menurutku haha. Konyol? Tapi memang begitu, untuk orang yang mengalami pasti tahu akan hal ini. 


Sebuah proses bisa jadi melukaimu, karena kamu tidak hati-hati bertindak dan bijaksana dalam memilih. Hening menjadi perantara kamu dan keyakinanmu, bisa jadi semakin menguatkanmu atau malah menggoyahkanmu. Aku suka berkawan dengan sepi dan hening karena terkadang mereka tidak melukai, mereka memperlakukanku secara sopan, memberiku ketenangan dan membiarkanku bereksplorasi. Mereka hanya mencoba memberiku ruang untuk berfikir,mengerti, memaham, dan mengolah diriku sendiri tanpa ada satupun intervensi.

Namun, terkadang sepi dan hening tidak memberikanmu pilihan, memaksamu mengingat semuan penyesalanmu dan kemudian membuatmu kacau. Dengan kata lain tak sengaja menyakitimu. Berbalut kekecewaan untuk melepaskan sesutau yang belum sempat kita genggam atau mulai menyesali pilihan.

Dari mereka (sepi dan hening) aku belajar sesuatu yaitu manajemen hati, dimana itu hanya permainan waktu, perasaan dan kondisi.dan sebenarnya pilihannya adalah diam atau terbawa. Terkadang bukan rasa sakit yang membuatmu menderita, namun perasaan ketika menimbang resiko bila terjadi kedua kalinya yang membuat segalanya terlihat buruk. Ikuti saja, pilihan tidsk pernah salah seperti kamu meyakini bahwa esok masih selalu ada matahari yang terbit dari timur.

Comments

Popular posts from this blog

Saat Itu...

  "... Bila aku menyerah, bukan berarti lelah atau lemah, itu hanya berarti kamu kehilanganku."   Suatu saat aku akan membaca kembali tulisan ini, sambil merenungi apa yang terjadi denganku beberapa tahun kedepan. Hidupku, tempat tinggalku, teman hidupku, dimana aku bekerja, seberapa nyaman aku dengan kehidupanku, keluargaku, semuanya. Ini bukan perihal sekedar impian dan harapan tapi realita. Terkadang memang kenyataan adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima begitu saja. Mengeluh, mengutuki, menghujat, kecewa, haru semua pasti ada. Apalagi bila segala yang kamu mulai rencanakan hari ini dan seterusnya tidak menjadi nyata di masa yang akan datang, lantas kita akan bertanya bagaimana ini semua terjadi, kenapa bisa begini akhirnya? Suatu saat nanti, kelak jika aku bukan orang yang membangunkanmu saat pagi datang, membelaimu mesra dan membuatkanmu secangkir kopi hangat. Jika tidak ada lagi seseorang yang kau buatkan cokelat hangat karena aku rentan dengan ...

Thinking Of You

  Comparisons are easily done Once you’ve had a taste of perfection Like an apple hanging from a tree I picked the ripest one I still got the seed You said move on where do I go I guess second best Is all I will know Cause when I’m with him I am thinking of you Thinking of you What you would do if You were the one Who was spending the night Oh I wish that I was looking into your eyes

Masihkah kamu yang dulu?

  " Kenalilah aku sebagai tempatmu pulang, bukan bersinggah...". Masih ingatkah kamu? Masih samakah kamu? Dulu kamu yang selalu rewel saat aku akan pergi, kamu sibuk mengomel agar aku membawa ini itu. Kamu yang selalu mengingatkanku untuk menilik kembali checklist -ku, kamu yang khawatir ketika aku kelupaan sesuatu, kamu yang sibuk membeli ini itu karena takutku sakit itupun hanya di Jawa. Saat ini aku pergi jauh bukan untuk main-main, bukan untuk berlibur atau sekedar tamasya untuk pamitpun susah bahkan support darimu mungkin aku harus memintanya, hal-hal kecil yang sering menjadi ritual kita saat akan berpisah untuk sementara waktu mulai kamu abaikan, konyol memang! Tapi tidak untukku. Dan mungkin sebentar lagi komunikasi menjadi hal yang sangat terbatas. Memang salahku, tidak seharusnya aku membawamu terlalu dalam. Sering terlintas dalam benakku, andai saja saat itu aku tidak mengijinkanmu menyelamiku hanya cukup mengagumi lewat pandang mungkin tidak akan sejauh ...