Skip to main content

Posts

Hari Minggu Pukul 4 Sore

"...Awalnya aku hanya iseng melihat foto masa kecilku dengan ayah. Kini, aku menulis berderai air mata membayangkan tubuhnya..." Hari minggu pukul 4 sore adalah detik-detik yang tidak pernah menyenangkan. Aku harus bersiap dan bergegas pulang kembali ke tempat dimana aku melanjutkan sekolah, iya Jogja. Jogja memang menungguku dengan sejuta pesona, tapi kehangatan Solo tak pernah ada tandingannya. Sering aku berharap hari Sabtu itu lebih panjang, sehingga aku punya banyak waktu untuk menikmati kota asalku dan isinya. Satu hal yang paling aku rindukan adalah bertemu dengan ayahku. Iya, ayah yang sekarang merangkap menjadi ibu juga dan bahkan kakakku. Nggak tau kenapa, malam ini aku ingin menulis tentang ayah. Ketika perjalanan dikereta menuju Jogja aku menyumbat kedua telingaku dengan headset berharap aku tidak menghiraukan semua hiruk pikuk keramaian dengan mendengarkan playlist-playlist favoriteku. Sesaat mataku berkaca ketika playlistku sampai pada sebuah rekama...

Kecewa itu menguatkan!

  “….Aku meredam, hingga pada suatu hari aku memutuskan untuk berhenti. Bukan terlalu dini menilai, tapi takut jatuh terlalu dalam”. Sore itu aku pulang dengan segala kemarahan, tangan rasanya ingin bergerak melayang memukulmu sedangkan air mata sudah tak kuat lagi dibendung, rasanya sudah mau menetes saja. Dan benar… “Kamu.. Iya kamu.. Kenapa kamu mengecewakan sekali?” ujarku dalam hati. Kenapa kamu tak menyapaku, bahkan melirikpun tidak. Apa yang salah denganku. Kamu selalu membuatku bertanya-tanya tentang kepergianmu secara tiba-tiba. Mungkin itu bagian dari misteri, hanya waktu yang tahu, seperti dulu kedatanganmu. Aku berjalan melewati lorong itu dengan senyum dan sapaan dari teman-temanku dengan perasaan pura-pura tegar. Tahukan kamu? Aku berpura-pura. Hingga akhirnya diujung lorong aku bertemu dengan salah seorang teman dekatku, seseorang yang sudah tak asing denganmu karena aku tak pernah berhenti menyebutkan namamu ketika aku bercerita. Seseorang yang tak ...

Kisah Aku

"...sedangkan aku. Aku justru orang yang paling bersedih. Karena aku tahu, apa yang gak bakalan aku miliki." Kisah   aku... Kisahku tentang seorang   sahabat karibku yang lahir dan tumbuh besar di negeri orang. Dia hidup dalam keluarga yang sangat sederhana. Setiap kali ibunya harus menyediakan ayam sebagai lauk, ibunya mesti pergi kepasar untuk membeli ayam.   Tapi cuma bagian punggungnya saja, cuma itu yang mampu dia beli.   Akhirnya sahabat aku itupun tumbuh dewasa dan hanyan mengetahui kalau ayam itu Cuma punya bagian punggung.   Dia gak pernah tahu ada dada, paha ataupun sayap. Punggung.. menjadi satu-satunya definisi dia tentang ayam. Kalau aku... Aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja.   Seseorang yang aku saja tidak tahu apa warna matanya apakah biru atau coklat muda. Seseorang yang hanya sanggup aku nikmati bayangannya, tapi tak kan pernah bisa aku mil...

Please stop to... Compare

“Please, stop compare me with another. Both of us are blessed by different talents. Would should I do to make you realize? That I’m not same as them. Please being a quite nice. Can you?                 Sesungguhnya emang gak ada orang yang suka dibanding-bandingin. Entahlah dengan siapapun itu. Ada banyak hal yang membuat kita begitu—begitu dengan mudahnya menilai   orang tanpa bertanya seperti apa dia mau dinilai. Bukankah itu tidak adil? Orang punya cirinya masing-masing termasuk dalam menanggapi pendapat sekalipun perbedaan. Bukalah otakmu supaya lebih leluasa berpikir juga telingamu untuk menangkap data-data yang akan diolah sebagai sebuah informasi. Baik-baiklah matamu dalam memilah kebaikan dan kebenaran. Jangan seperti mulut yang dengan mudahnya berbicara.                 Sebelum member penilaian, sudahkah kamu m...

LOVE ♥

“The only thing we never get enough of is love; and the only thing we never give enough of is love and in the end, the love you take is equal to the love you make. ” I love you without knowing how, or when, or from where. I love you simply, without problems or pride: I love you in this way because I do not know any other way of loving but this, in which there is no I or you, so intimate that your hand upon my chest is my hand, so intimate that when I fall asleep your eyes close. He’s not perfect. You aren’t either, and the two of you will never be perfect. But if he can make you laugh at least once, causes you to think twice, and if he admits to being human and making mistakes, hold onto him and give him the most you can. He isn’t going to quote poetry, he’s not thinking about you every moment, but he will give you a part of him that he knows you could break. Don’t hurt him, don’t change him, and don’t expect for more than he can give. Don’t analyze. Smile when he makes ...