Skip to main content

Aku berbisik dalam "DIAM"



“Apakah kamu mampu melakukan hal sama seperti aku? Mencintai dalam diam. Menjadi perindu yang tabah, menjadi pendengar yang diabaikan, menjadi penunggu berita yang resah, penikmat hidupmu dari cerita orang lain? Atau tidak bisakah kamu melakukan hal yang sederhana seperti menyapa dan memberiku kabar tentangmu?

Diam?? Tidak selalu bercerita tentang marah..
Diam  bukan berarti mengabaikan, hanya sedang memberi waktu. Diam bukan berarti marah, hanya memberi ruang untuk mengerti. Diam?? Bukan berarti meragu hanya sedang meyakinkan diri dengan pilihan hati. Diam.. diam bukan berarti lelah, hanya sedang berfikir cara terbaik untuk bertahan.
Kedekatan tidak diukur dengan waktu, tapi dengan diam. Diam yang didalamnya ada sejuta perhatian namun tak terungkap. Setidaknya “dia” yang kau sebut “diam” dalam kata bergerak dalam lakumu.

Diam bukan berarti menyerah, karena ketika aku belum menyerah disitulah impianku berada. Diam bukan berarti terdesak hanya mungkin  cara terbaik untuk berserah. Diam tidak menjanjikan kebahgiaan hanya saja dia sedikit melegakan..

Diam adalah teman terbaik yang tidak akan pernah menceritakan kesal dan tangismu kepada siapapun. Diam bukanlah perihal tertutup. Hanya tak ingin mengumbar. Diam ada pada daftar hal yang palinga ku suka tepat dibawah… kamu dan cokelat!

“Aku memelukmu dalam doa, menyayangimu dalam jarak, mengagumimu dalam bayangan, dan beginilah caraku mencintaimu sekalipun dalam DIAM. “

Comments

Popular posts from this blog

Saat Itu...

  "... Bila aku menyerah, bukan berarti lelah atau lemah, itu hanya berarti kamu kehilanganku."   Suatu saat aku akan membaca kembali tulisan ini, sambil merenungi apa yang terjadi denganku beberapa tahun kedepan. Hidupku, tempat tinggalku, teman hidupku, dimana aku bekerja, seberapa nyaman aku dengan kehidupanku, keluargaku, semuanya. Ini bukan perihal sekedar impian dan harapan tapi realita. Terkadang memang kenyataan adalah sesuatu yang tidak bisa kita terima begitu saja. Mengeluh, mengutuki, menghujat, kecewa, haru semua pasti ada. Apalagi bila segala yang kamu mulai rencanakan hari ini dan seterusnya tidak menjadi nyata di masa yang akan datang, lantas kita akan bertanya bagaimana ini semua terjadi, kenapa bisa begini akhirnya? Suatu saat nanti, kelak jika aku bukan orang yang membangunkanmu saat pagi datang, membelaimu mesra dan membuatkanmu secangkir kopi hangat. Jika tidak ada lagi seseorang yang kau buatkan cokelat hangat karena aku rentan dengan ...

Hari Minggu Pukul 4 Sore

"...Awalnya aku hanya iseng melihat foto masa kecilku dengan ayah. Kini, aku menulis berderai air mata membayangkan tubuhnya..." Hari minggu pukul 4 sore adalah detik-detik yang tidak pernah menyenangkan. Aku harus bersiap dan bergegas pulang kembali ke tempat dimana aku melanjutkan sekolah, iya Jogja. Jogja memang menungguku dengan sejuta pesona, tapi kehangatan Solo tak pernah ada tandingannya. Sering aku berharap hari Sabtu itu lebih panjang, sehingga aku punya banyak waktu untuk menikmati kota asalku dan isinya. Satu hal yang paling aku rindukan adalah bertemu dengan ayahku. Iya, ayah yang sekarang merangkap menjadi ibu juga dan bahkan kakakku. Nggak tau kenapa, malam ini aku ingin menulis tentang ayah. Ketika perjalanan dikereta menuju Jogja aku menyumbat kedua telingaku dengan headset berharap aku tidak menghiraukan semua hiruk pikuk keramaian dengan mendengarkan playlist-playlist favoriteku. Sesaat mataku berkaca ketika playlistku sampai pada sebuah rekama...

Thinking Of You

  Comparisons are easily done Once you’ve had a taste of perfection Like an apple hanging from a tree I picked the ripest one I still got the seed You said move on where do I go I guess second best Is all I will know Cause when I’m with him I am thinking of you Thinking of you What you would do if You were the one Who was spending the night Oh I wish that I was looking into your eyes